#TUJUH : FILOSOFI & PARADIGMA SEMIOTIKA

Ilmu Tanda: Peirce &
Roland Barthes

Menelaah secara utuh model triadik pragmatis Charles Sanders Peirce serta perluasan tatanan signifikasi konotasi, mitos, dan operasi ideologi menurut Roland Barthes.

1. Pengantar Ilmu Tanda

Tanda menunjuk atau mengacu pada sesuatu yang bukan dirinya sendiri, sedangkan makna atau arti adalah hubungan antara objek atau ide dengan tanda. Kedua konsep tersebut menyatu dalam berbagai teori komunikasi, khususnya yang memberikan perhatian pada simbol, bahasa serta tingkah laku nonverbal.

Pembahasan sebelumnya tentang salah satu tokoh semiotika terkemuka Ferdinand De Saussure memperkenalkan konsep bahwa setiap tanda terdiri dari dua bagian tak terpisahkan: penanda (bentuk fisik tanda) dan petanda (konsep mental). Hubungan keduanya bersifat arbitrer (diikat kesepakatan sosial) dan maknanya ditentukan oleh posisinya dalam oposisi sistem tanda keseluruhan.

Melompat dari paradigma de Saussure, terdapat pembaruan radikal dari dua pemikir besar dunia:

  • Charles Sanders Peirce: Mendefinisikan semiotika sebagai studi tentang tanda melalui tiga elemen logika-filosofis: *representamen* (bentuk tanda), *objek* (apa yang diwakili), dan *interpretan* (makna hasil relasi keduanya).
  • Roland Barthes: Memperluas ranah semiotika untuk mencakup budaya dan masyarakat, membedakan tingkatan makna denotatif (literal) dan konotatif (budaya/ideologis), serta melihat tanda sebagai sistem kode kompleks pembentuk realitas dunia.

2. Bahasa sebagai Tanda Menurut Charles Sanders Peirce

"NOTHING IS A SIGN UNLESS IT IS INTERPRETED AS A SIGN" (Tidak ada yang menjadi tanda kecuali ia diinterpretasikan sebagai tanda).

Misalnya, kain berwarna merah itu hanya sebuah kain berwarna merah biasa. Namun, jika diposisikan di suatu tempat sebagai sebuah bendera, kain merah tersebut dapat diinterpretasikan bahwa daerah tersebut berbahaya.

Teori semiotik Peirce lebih menekankan pada logika dan filosofi dari tanda-tanda yang ada di masyarakat. Bagi Peirce, penalaran dilakukan melalui tanda-tanda yang memungkinkan kita berpikir, berhubungan dengan orang lain, dan memberi makna pada alam semesta. Manusia memiliki keanekaragaman tanda; tanda linguistik merupakan kategori penting, tetapi bukan satu-satunya kategori. Sesuatu dapat disebut representamen (tanda) jika memenuhi dua syarat: (1) Bisa dipersepsi pancaindra/pikiran; (2) Berfungsi mewakili sesuatu yang lain.

Model Segitiga Triadik Peirce & Proses Semiosis Tanpa Batas:
Linguistik interdisipliner

Proses 'semiosi' (signifikasi) memandukan tiga elemen utama: Representamen (R) ("sesuatu" bentuk tanda), Objek (O) ("sesuatu di dalam kognisi manusia" yang dirujuk), dan Interpretan (I) (respon, pemahaman, atau efek makna yang dihasilkan dalam benak penafsir). Proses semiosis ini bersifat tidak terbatas, karena sebuah interpretan dapat berubah menjadi representamen baru yang kemudian berproses mengikuti rantai semiosis secara tak terbatas dengan kadar penafsiran yang semakin tinggi.

Trikotomi Tanda & 9 Subtipe Tanda Menurut Peirce:
Linguistik interdisipliner
Dimensi Triadic 1. Klasifikasi Primer 2. Klasifikasi Sekunder 3. Klasifikasi Tersier
Representamen (R) (Bentuk Fisik Tanda) Qualisign (Tanda Kualitas): Tanda yang memiliki sifat kualitatif asli tanpa bentuk pasti.
Contoh: Warna merah murni, suara nada tertentu, aroma kopi.
Sinsign (Tanda Tunggal): Tanda yang berupa realitas fisik/bentuk tunggal aktual yang tidak dapat dibagi.
Contoh: Sebuah titik merah, suara "ah", sebuah kata khusus.
Legisign (Tanda Konvensional): Tanda yang memiliki makna konvensional dibentuk peraturan/kesepakatan sosial.
Contoh: Kata "kuda", simbol (+, -, x), lambang negara/bendera.
Objek (O) (Hubungan R & Realitas) Ikon (Icon): Tanda yang memunculkan kemiripan visual/struktural tiruan dengan objek asli.
Contoh: Lukisan kuda, gambar kuda, patung kuda, foto kuda, emoji.
Indeks (Index): Tanda yang terkait objeknya melalui hubungan fungsional sebab-akibat (causal)/spasial.
Contoh: Suara kuda, suara langkah kuda, bau kuda, jarum jam, asap/api.
Simbol (Symbol): Tanda yang tidak memiliki hubungan alami dengan objeknya; semata-mata konvensi.
Contoh: Diucapkannya kata "Kuda", makna kata, logo kuda, rambu jalan.
Interpretan (I) (Struktur & Fungsi Mental) Rheme (Tanda Dasar): Tanda yang belum memiliki struktur proposisional, hanya menunjuk konsep.
Contoh: Kata "kuda", gambar kuda tunggal, konsep abstrak "keadilan".
Dicisign (Tanda Kalimat): Tanda yang memiliki struktur proposisional, menyatakan fakta objek.
Contoh: Kalimat "Kuda itu berlari", perkiraan "Hari ini hujan", perintah "Tutup pintu!".
Argument (Tanda Argumen): Tanda yang memiliki struktur inferensial hubungan logis antarproposisi.
Contoh: "Jika hari hujan, jalan basah", silogisme "Semua manusia mati...".
Studi Kasus Linguistik Forensik (Model Triadic Peirce)

Kasus Bukti: Polisi menemukan catatan ancaman diselipkan di bawah pintu rumah saksi kunci berisi gambar pisau dan tulisan pendek: “Kau berikutnya.”

1. Representamen: Bentuk fisik yang tampak berupa gambar pisau dan teks "Kau berikutnya" di atas lembar kertas catatan.
2. Objek: Tindakan ancaman kekerasan fisik nyata di dunia riil terhadap target. Pisau merujuk pada potensi penggunaan senjata tajam berbahaya.
3. Interpretan: Respon dalam benak penafsir (korban/penyidik) yang memahami pesan sebagai ancaman intimidatif serius untuk menimbulkan rasa takut, sekaligus mengindikasikan adanya motif niat jahat pelaku.

3. Bahasa sebagai Tanda Menurut Roland Barthes

Barthes (1915-1980), sebagai pengikut Saussure, berpandangan bahwa semiotika adalah sistem tanda yang mencerminkan asumsi-asumsi dari suatu masyarakat tertentu dalam waktu tertentu. Ia memfokuskan interaksi antara teks dengan budaya, ideologi, serta pengalaman personal penggunanya melalui konsep komprehensif bernama “Order of Significations” (Tatanan Pemaknaan) yang terbagi ke dalam lapisan makna bertingkat (multi-level):

  1. Denotasi (First Order of Signification): Makna paling dasar, apa adanya, objektif, eksplisit, dan pasti dari suatu tanda (makna pada apa yang tampak). Denotasi diasosiasikan dengan ketertutupan makna dan memiliki tingkat kesepakatan konvensi yang sangat tinggi.
    Contoh: Gambar/foto mawar merah berarti sebuah bunga mawar berwarna merah riil; foto wajah Pak Presiden berarti wajah Bapak Presiden yang sesungguhnya.
  2. Konotasi (Second Order of Signification): Makna tambahan, tersirat, subjektif, dan implisit (tersembunyi) yang beroperasi ketika penanda dikaitkan dengan berbagai aspek psikologis seperti perasaan, emosi, keyakinan, atau latar belakang budaya (terbuka terhadap berbagai kemungkinan). Konotasi adalah pengembangan dari segi petanda (content) oleh pemakai tanda sesuai sudut pandangnya.
    Contoh: Bunga mawar merah menjadi simbol cinta, gairah, dan romantisme; mobil merek Mercedes-Benz (denotasi car buatan Jerman) berkembang konotasinya menjadi 'mobil mewah', 'mobil orang kaya', atau 'simbol status sosial ekonomi tinggi'.
  3. Mitos (Myth / Ideology): Tahap mantap di mana makna konotasi lapis kedua yang menguasai masyarakat mengkristal dan dianggap sebagai sesuatu yang alami, wajar, absout, tunggal (monosemi), and benar secara alamiah, padahal sebenarnya itu hanyalah konstruksi sosial-budaya belaka. Barthes memadukannya dalam model E-R-C (Ekspresi - Relasi - Isi). Mitos bertindak layaknya "kaca buram" yang mengaburkan kebenaran murni sambil memasukkan sistem kepercayaan baru.
    Contoh: Mawar merah pada perayaan Valentine melahirkan mitos "Cinta sejati itu wajib dirayakan dengan mawar merah" yang diterima khalayak luas tanpa dipertanyakan lagi.
Simulasi Konsep Kata "Anjing" Berdasarkan Tingkatan Barthes:
  • Denotasi: Merujuk secara langsung pada objek binatang piaraan berkaki empat.
  • Konotasi: Ketika diucapkan dengan nada tinggi/umpatan, maknanya bergeser menjadi simbol penghinaan, ekspresi kasar, liar, atau kemarahan.
  • Mitos & Ideologi: Melekatnya persepsi absolut di masyarakat tertentu bahwa anjing adalah binatang yang haram (konteks agama Islam), serta membawa asosiasi absolut watak yang galak, liar, and jahat, meskipun tidak semua anjing berkarakter demikian.

4. Operasi Ideologi & Antropologi Mitologi Kedaerahan

Dalam kerangka Barthes, konotasi identik dengan operasi Ideologi yang menyusup masuk ke dalam penandaan tanda dan menjadi petanda (makna) pada tataran kedua. Ketika makna ideologi itu mantap diterima menjadi hal yang wajar atau alamiah di masyarakat, ia beralih menjadi ideologi dominan.

Secara etimologis, ideologi berasal dari bahasa Greek idea (idean = melihat) dan logic (science = pengetahuan/teori), yang berarti pengucapan dari apa yang terlihat atau terumus di pikiran. KBBI mendefinisikannya sebagai kumpulan konsep bersistem yang dijadikan asas pendapat yang memberikan arah kelangsungan hidup; sedangkan Raymond Williams mengklasifikasikannya ke dalam tiga ranah: (1) sistem kepercayaan kelompok/kelas sosial; (2) kesadaran palsu (ide palsu); (3) proses umum produksi makna dan ide.

Empat Ciri Utama Mitos Menurut Roland Barthes:
  1. Distorsif: Hubungan antara bentuk (form/signifier) dan konsep (concept/signified) bersifat deformatif. Concept mendistorsi form asli sehingga sistem tingkat pertama kehilangan fakta sebenarnya.
  2. Intensional: Mitos tidak ada begitu saja secara alami. Mitos sengaja diciptakan, dikonstruksikan, dan dinyatakan oleh wacana budaya masyarakatnya secara intensional demi maksud tertentu.
  3. Statement of Fact: Mitos menaturalisasikan pesan sehingga kita menerimanya secara mutlak sebagai kebenaran nalar awas yang tidak perlu diperdebatkan lagi.
  4. Motivasi: Berbeda dengan bahasa penandaan tingkat pertama Saussure yang arbitrer (manasuka), bentuk mitos tidak pernah arbitrer; ia selalu memiliki motivasi, maksud seleksi konsep, and bermain di atas analogi historis.
Studi Kasus Budaya Riil: Mitos Sumpah Pati di Sidoarjo

Berdasarkan hasil wawancara empiris (Bpk. Munadi, Desa Kedondong, Kec. Tulangan, Kab. Sidoarjo, 18 Juli 2018) dalam riset “Pemikiran Roland Barthes Tentang Mitos Studi Kasus Sumpah Pati”, terdapat kepercayaan turun-temurun bahwa Dusun Godog dan Dusun Kadelesan telah terikat sumpah adat untuk dilarang saling menikahkan warga antar-dusun maupun menyatukan benda/materi dari kedua desa tersebut. Jika dilanggar, dipercaya absolut akan mendatangkan petaka alam (seperti sawah gagal panen atau kematian).

Bukti Konkret Gejala Budaya: Ketika seorang petani Dusun Godog kekurangan benih padi lalu mengambil benih dari Dusun Kadelesan untuk ditanam di pekarangan sawahnya, dalam jarak 4 hari petani tersebut mendadak jatuh sakit dan tepat 1 minggu meninggal dunia, diikuti seluruh padi bawaan dari Dusun Kadelesan yang layu total. Konotasi ini mengkristal kuat menjadi mitos sosiologis sosiokultural daerah setempat.

Studi Kasus WhatsApp Ancaman Jurnalis (Model Signifikasi Barthes)

Kasus Forensik: Sebuah pesan ancaman dikirim via WhatsApp kepada jurnalis berisi gambar seekor serigala hitam dengan gigi tajam mengaum disertai teks: “Jangan ikut campur urusan kami.”

* Denotasi (Makna Dasar): Struktur literal fisik yang tampak berupa hewan serigala hitam yang menyeramkan serta kalimat larangan tertulis eksplisit.
* Konotasi (Makna Tambahan): Serigala menyimbolkan predator, kekejaman, and ancaman bahaya; warna hitam mengindikasikan kejahatan rahasia/dunia bawah tanah; pose auman mengisyaratkan agresi serangan fisik yang akan datang. Makna tersirat: "Kami berbahaya dan siap menyerangmu."
* Mitos (Makna Ideologis): Dalam budaya populer, serigala hitam bertransformasi sebagai lambang organisasi kriminal terstruktur atau kelompok mafia rahasia yang kebal dan berada di atas hukum, memancarkan pesan intimidasi ideologis absolut: "Kamu tidak akan aman jika menantang kekuatan kami."

Uji Kompetensi Mandiri: Bab 7

Uji pemahaman Teori Semiotika Charles Sanders Peirce & Roland Barthes Anda. Total bobot nilai: 100 (10 poin per soal).


1. Model penandaan triadik Charles Sanders Peirce yang memadukan entitas tanda terdiri atas tiga elemen, yaitu...

2. Di dalam tipe representamen Peirce, sebuah tanda aktual yang memiliki wujud tunggal fisik dan tidak dapat dibagi dinamakan...

3. Berdasarkan trikotomi objek Peirce, gambar kuda, foto kuda, lukisan kuda, atau patung kuda diklasifikasikan sebagai...

4. Tanda yang sudah memiliki struktur proposisional dan menyatakan sesuatu hal berupa fakta tentang objek (misal: "Kuda itu berlari") disebut...

5. Sesuatu benda/kata dapat bertindak sebagai tanda (representamen) menurut ketentuan Peirce apabila memenuhi syarat...

6. Lapisan signifikasi tingkat pertama (first order) yang memotret makna eksplisit, pasti, objektif, dan apa adanya menurut Barthes dinamakan...

7. Pengembangan segi petanda (isi) lapis kedua yang bermuatan aspek psikologis, emosi, keyakinan, dan terikat sosiokultural dinamakan...

8. Pengkodean nilai sosial-budaya lapis kedua yang mantap diterima dan dianggap wajar seolah bersifat alamiah/natural disebut...

9. Karakteristik mitos Barthes yang mendistorsi bentuk asli (form) tingkat pertama sehingga tidak lagi menunjuk fakta sebenarnya dinamakan ciri...

10. Studi kasus antropologi “Sumpah Pati” di Desa Kedondong Sidoarjo membuktikan contoh pergeseran tanda konotasi kultural menjadi...

Skor Anda: 0 / 100

© Dr. Bejo Sutrisno, M.Pd.